Senin, 30 Januari. Sebelum azan ashar berkumandang
"Dirimu adalah pemeran utama dalam kehidupanmu"
aku terduduk diam di shaf belakang, berpangku tangan, azan sebentar lagi berkumandang, fikiranku kini terpaku pada satu kutipan
"Dirimu adalah pemeran utama dalam kehidupanmu"
Kembali kutipan itu terngiang dalam otakku, pandanganku kosong, aku seperti tak setuju dengannya, otakku mencoba memutar balik fakta, berbagai pengalaman lalu mulai terputar ulang, menjadi bahan buktiku untuk tak menyetujuinya.
Logikaku mulai bermain,
Logikaku mulai bermain,
-Hey, kalau dunia ini penuh dengan pemeran utama, siapa yang bakal kalah?
Hey, Jika semua orang didunia ini adalah pemeran utama, siapa yang membuat semuanya terhubung jelas?
Takkan ada aksi dan reaksi
Takkan ada baik dan buruk
Takkan ada menang dan kalah
Takkan ada suka dan duka-
Takkan ada baik dan buruk
Takkan ada menang dan kalah
Takkan ada suka dan duka-
Aku mulai setuju dengan logikaku, tapi opiniku belum cukup untuk tak menyetujuinya.
Kini seakan ada bagian dari fikiranku yang menolak opini bagian fikiranku yang lainnya.
-Semua justru akan terjadi jika dunia ini penuh dengan pemeran utama.
Akan ada aksi reaksi, karena semua orang akan menganggap dialah pemeran utama dan orang lain salah, menimbulkan reaksi
Akan ada baik dan buruk, Meskipun berkesan relatif, justru baik dan buruk akan menjadi bahan saling tuduh
Akan ada suka dan duka, jika apa yang mereka anggap benar adalah salah, dan kekecewaan timbul dengan paradigma pemeran utama
Dan, akan ada menang dan kalah, semua orang akan memperebutkannya untuk membenarkan dirinya adalah pemeran utama di dunia ini-
Akan ada baik dan buruk, Meskipun berkesan relatif, justru baik dan buruk akan menjadi bahan saling tuduh
Akan ada suka dan duka, jika apa yang mereka anggap benar adalah salah, dan kekecewaan timbul dengan paradigma pemeran utama
Dan, akan ada menang dan kalah, semua orang akan memperebutkannya untuk membenarkan dirinya adalah pemeran utama di dunia ini-
suara iqomah memecahkan lamunanku, ini semakin rumit, bahkan fikiranku tak saling setuju, seakan ikut terlibat memperebutkan paradigma pemeran utama ini
Sholat ashar telah dilaksanakan, diriku berjalan pulang ke asrama, kakiku melangkah diatas jalan setapak, tapi fikiranku masih berkutat dalam perseteruan tadi.
-kurasa kita tak membutuhkan pemeran utama dalam dunia ini, takkan ada kehancuran memperebutkan kemenangan, takkan ada peperangan memperjuangkan kebenaran, yang bahkan sekarang tak ada yang benar benar tau siapa yang benar
Dunia akan berjalan lebih damai jika tak ada yang menganggap dirinya benar, dirinya harus menang, dirinyalah pemeran utama-
Aku mulai setuju dengan opini fikiranku yang satu ini, tapi ternyata belum selesai, ada fikiran yang kembali mencoba menolaknya
-jika tak ada pemeran utama di dunia ini, takkan ada suka dan duka, semua akan berjalan stagnan, bagai garis lurus yang tak jelas apa bentuknya, kemana ujungnya
Dunia ini membutuhkan pemeran utama, yang akan membelokkan garis tadi, sehingga terbentuk gambar yang jelas, yang semua orang akan mengerti
Dunia ini membutuhkan pemeran utama, dialah yang menciptakan kemenangan, yang menimbulkan suka, menimbulkan duka, dia juga yang akan menimbulkan konflik, peperangan, tapi dialah pemegang kebenaran seutuhnya, benar yang benar benar benar, benar yang tidak salah, akan ada yang menentangnya, yang menganggap dirinya salah, tapi pemeran utama yang dibutuhkan dunia ini, kelak diakhir akan mendapatkan kemenangan, akan mendapatkan akhir yang bahagia-
Dunia ini membutuhkan pemeran utama, dialah yang menciptakan kemenangan, yang menimbulkan suka, menimbulkan duka, dia juga yang akan menimbulkan konflik, peperangan, tapi dialah pemegang kebenaran seutuhnya, benar yang benar benar benar, benar yang tidak salah, akan ada yang menentangnya, yang menganggap dirinya salah, tapi pemeran utama yang dibutuhkan dunia ini, kelak diakhir akan mendapatkan kemenangan, akan mendapatkan akhir yang bahagia-
Ya, aku setuju, sepertinya sekarang sudah tak terbantahkan lagi.
Tapi siapa pemeran utama yang dunia butuhkan.
Kurasa semua sifat yang tadi disebutkan tertuju pada sesuatu.
Ya, Dialah Tuhan sang pencipta alam ini. Kurasa fikiranku mulai tenang sekarang.
.Fzn.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar