Jumat, 10 Februari 2017

Lima Prio Kecil

Jumat, 10 Februari 2017.
"Selamat ulang tahun Abi"
Rumpang.
Apa yang akan kalian katakan, jika hari ini ayah kalian bertambah tua, berkurang umurny?
Apa? Apa yang akan kalian katakan? Tepatnya setelah kalian mengucapkan selamat.
"Semoga abi panjang umur"
Aku sejujurnya rindu untuk mengatakan ini, rindu untuk mendoakan ini. Mungkin akan terdengar wajar jika kalian yang mengucapkannya kepada ayah kalian, tapi, salahkah jika aku yg mengucapkannya hari ini? Jelas salah, aku tak mau terdengar menyalahkan, atau mengutuk yang terjadi. Bahkan sekarang aku terdengar seperti mengutuk masa lalu, bukan maksud.
aku malu, untuk menuliskan sesuatu yang indah disini tentang abi, bukan karena sudah tak memilikinya, tapi aku malu jika terdengar terlalu mencintai abi disini, tapi nyatanya, tindakanku masih saja sering membuat abi kecewa, seakan aku tak mencintainya. Aku sangat mencintainya.
aku malu, untuk menuliskan sesuatu yang indah disini, bukan karna tak bangga, tapi karena aku malu terlihat cengeng, mengharap iba. Aku tau bukan itu yang abi inginkan untuk anak lelakinya, aku tau yang abi butuhkan adalah laki laki yang kuat dan tegar, bukan yang cengeng dan berharap dikasihani.
Heyy, tolong jangan pernah memberiku rasa kasihan, aku tak pernah memintanya, tolong jangan beriku ampun, aku tak mau terbiasa dengan hal yang mudah, aku sejujurnya tak mau jadi laki laki manja.
Aku tau, abi memang terlahir dari keluarga yang pahit, bahkan mungkin lebih pahit dari yang kurasakan, tapi aku lebih tahu, bahwa abi bukanlah pribadi yang cengeng dan manja, tak sepertiku,
Jadi tolong..
Jangan pernah lelah untuk tak memberiku kemudahan, jangan pernah lelah untuk tak menyusahkanku, jangan pernah lelah untuk tak menyalahkanku, jangan pernah lelah untuk membuatku terus merasa gagal.
Aku ingin tersadar, bahwa semua ini tak bisa dicapai hanya dengan berdiam.
Aku ingin menjadi pribadi yang kuat, seperti abi, bahkan lebih kuat dari abi, agar aku dapat mebuktikan dan tak selalu mengecewakan abi.
"Selamat ulang tahun abi"
"Semoga abi selalu dalam lindungan Allah, dari segala siksanya"
"Semoga keturunan abi menjadi pribadi yang kuat, serta Sholeh"
"Selamat ulang tahun abi, semoga abi tak hanya akan panjang umur, abi akan abadi, kepribadian abi sebagai orang yang kuat yang tak akan mati"
Biarkan semua orang tetap mengenal sosoknya.
5 Prio kecil.
Abi masih mempunyai 5 prajurit yang akan meneruskan perjuangannya.
Selamat ulang tahun abi, kami menyayangimu.

.Fzn.

Jumat, 03 Februari 2017

Paradigma pemeran utama

Senin, 30 Januari. Sebelum azan ashar berkumandang
"Dirimu adalah pemeran utama dalam kehidupanmu"
aku terduduk diam di shaf belakang, berpangku tangan, azan sebentar lagi berkumandang, fikiranku kini terpaku pada satu kutipan
"Dirimu adalah pemeran utama dalam kehidupanmu"
Kembali kutipan itu terngiang dalam otakku, pandanganku kosong, aku seperti tak setuju dengannya, otakku mencoba memutar balik fakta, berbagai pengalaman lalu mulai terputar ulang, menjadi bahan buktiku untuk tak menyetujuinya.
Logikaku mulai bermain,
-Hey, kalau dunia ini penuh dengan pemeran utama, siapa yang bakal kalah?
Hey, Jika semua orang didunia ini adalah pemeran utama, siapa yang membuat semuanya terhubung jelas?
Takkan ada aksi dan reaksi
Takkan ada baik dan buruk
Takkan ada menang dan kalah
Takkan ada suka dan duka-
Aku mulai setuju dengan logikaku, tapi opiniku belum cukup untuk tak menyetujuinya.
Kini seakan ada bagian dari fikiranku yang menolak opini bagian fikiranku yang lainnya.
-Semua justru akan terjadi jika dunia ini penuh dengan pemeran utama.
Akan ada aksi reaksi, karena semua orang akan menganggap dialah pemeran utama dan orang lain salah, menimbulkan reaksi
Akan ada baik dan buruk, Meskipun berkesan relatif, justru baik dan buruk akan menjadi bahan saling tuduh
Akan ada suka dan duka, jika apa yang mereka anggap benar adalah salah, dan kekecewaan timbul dengan paradigma pemeran utama
Dan, akan ada menang dan kalah, semua orang akan memperebutkannya untuk membenarkan dirinya adalah pemeran utama di dunia ini-
suara iqomah memecahkan lamunanku, ini semakin rumit, bahkan fikiranku tak saling setuju, seakan ikut terlibat memperebutkan paradigma pemeran utama ini
Sholat ashar telah dilaksanakan, diriku berjalan pulang ke asrama, kakiku melangkah diatas jalan setapak, tapi fikiranku masih berkutat dalam perseteruan tadi.
-kurasa kita tak membutuhkan pemeran utama dalam dunia ini, takkan ada kehancuran memperebutkan kemenangan, takkan ada peperangan memperjuangkan kebenaran, yang bahkan sekarang tak ada yang benar benar tau siapa yang benar
Dunia akan berjalan lebih damai jika tak ada yang menganggap dirinya benar, dirinya harus menang, dirinyalah pemeran utama-
Aku mulai setuju dengan opini fikiranku yang satu ini, tapi ternyata belum selesai, ada fikiran yang kembali mencoba menolaknya
-jika tak ada pemeran utama di dunia ini, takkan ada suka dan duka, semua akan berjalan stagnan, bagai garis lurus yang tak jelas apa bentuknya, kemana ujungnya
Dunia ini membutuhkan pemeran utama, yang akan membelokkan garis tadi, sehingga terbentuk gambar yang jelas, yang semua orang akan mengerti
Dunia ini membutuhkan pemeran utama, dialah yang menciptakan kemenangan, yang menimbulkan suka, menimbulkan duka, dia juga yang akan menimbulkan konflik, peperangan, tapi dialah pemegang kebenaran seutuhnya, benar yang benar benar benar, benar yang tidak salah, akan ada yang menentangnya, yang menganggap dirinya salah, tapi pemeran utama yang dibutuhkan dunia ini, kelak diakhir akan mendapatkan kemenangan, akan mendapatkan akhir yang bahagia-
Ya, aku setuju, sepertinya sekarang sudah tak terbantahkan lagi.
Tapi siapa pemeran utama yang dunia butuhkan.
Kurasa semua sifat yang tadi disebutkan tertuju pada sesuatu.
Ya, Dialah Tuhan sang pencipta alam ini. Kurasa fikiranku mulai tenang sekarang.

.Fzn.